Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Hamparan bukit kapur, luasnya sekira 2000 meterpersegi, nyaris menelan Sodikin, 40 tahun. Di rongga mulut bukit kapur, yang terbentuk karena ulah Sodikin dan rekan-rekannya karena diledakkan dengan ‘dinamit’ belerang buatan sendiri, mereka mengeruk bahan alam dengan alat-alat sederhana.
Kapur-kapur itu dipisahkan. Dari yag paling lembut sampai yang berbentuk bongkahan keras. Mereka angkut ke tempat pembakaran dengan keranjang kayu. Dua pikulan sekali jalan. Bayaran sekali angkut 100-500 perak. Jika terkumpul satu rit truk harganya Rp 100-300 ribu. Itulah mata pencarian dan sumber kehiduupan sejumlah warga. “Kami ini sseperti makan batu,” ujar Sodikin tergelak.
Begitu keseharian di salah satu bukit kapur di Desa Redisari, Rowokele, Gombong, Kebumen. Lokasinya 1 kilometer dari objek wisata Gua Jatijajar. Bukit kapur ini tampak lokasi galian baru kendati usianya sudah lebih dari 30 tahun. “Sejak kecil saya sudah diajak bapak nyari kapur di sini,” ujarnya.
Para penambang kapur membayar kepada pemilik lahan bukit itu sesuai hitungan banyaknya hasil galian yang mereka ambil. Semua hasil tambang berguna. Kapur bakar alias tohor ‘diekspor’ ke Jogja. bongkahan besar untuk bahan bangunan. Sisa galian lain juga bisa digunakan warga setempat untuk campuran bahan bangunan.
Situs-situs bukit kapur ini jumlahnya lebih banyak lagi di Kecamatan Buayan. Tiga kecamatan ini –Rowokele, Buayan, Ayah—direncanakan menjadi lokasi penambangan kapur PT Semen Gombong.
Perusahaan ini sudah berencana menambang kapur di sana sejak 1993. Bahkan sudah membangun pabrik, letaknya 4 km dari situs kapur Redisari. Sayangnya krisis ekonomi terjadi. Penambangan batal. Di lokasi, pabrik kurang terawat. Beberapa dinding dan atap seng berkarat. Ia berubah sementara jadi pabrik pupuk.
Kepala dusun Trasan, Redisari, Rowokele, Mungarob, bilang tak ada perwakilan pabrik di desa. Pihak perusahaan juga belum ada yang datang ke desa. Ia sempat melihat plang nama pabrik dipasang tapi lalu hilang. “Dengar kabar saja kalau pabrik mau dibuka lagi,” ujarnya.
Toh warga sudah sepakat menolak rencana penambangan kembali situs kapur setempat. Mereka membuat pernyataan sikap. “Kami semua kompak sudah teken untuk menolak,” kata dia.
Pamong desa Umar Nasir mengatakan penambangan kapur oleh perusahaan sebetulnya sama saja dengan penambangan warga selama ini. “Perusahaan hanya membeli dari tengkulak. Tengkulak yang membayar warga penambang,” ujarnya.
Tentu saja jika perusahaan melakukan penambangan skala dan jumlahnya lebih besar. Dampaknya pada lingkungan setempat. Warga, terutama pamong desa, menyadari hal ini. “penambangan berpengaruh ke mata air Banyumudal,” ujar Umar. Menurut dia, ada 8 goa di dalam area penambangan.
Jangankan penambangan besar-besaran, penambangan kapur oleh warga saja diminimalkan.sudah ada larangan dan sudah ada upaya pengelolaan lingkungan. Sejak 90an, pamong desa seperti Umar terlibat penanaman pohon di bukit-bukit kapur dengan kayu jati dan mahoni. Mata airnya memang tidak di desa sini tapi alirannya sampai sini,” kata dia.
Apalagi jika selama ini penambangan warga saja dianggap ilegal, warga akan mempertanyakan mengapa pabrik boleh melakukan penambangan.
Di desa Redisari, air dari mata air memang berlimpah. Tampungan air wudu di masjid-masjid mengalir sampai meluap-luap. Manfaat utamanya untuk pengairan sawah seluas 29 hektar di desa tersebut. Meski tampak bening, air mengandung kapur. Untuk minum dan masak, air wajib direbus dulu sampai kapur mengendap.
Warga Redisari hidup dari bertani. Rata-rata tingkat ekonominya—jika dilihat dari fisik bangunan rumah, misalnya—lumayan. Lingkungan juga masih asri dan hijau; beberapa sudut kampung diisi budidaya ikan dan tanaman polibag dari kelompok tani.
Wilayah ini memiliki sebagian kecil dari bagian pegunungan kapur Karangbolong. Jumlah terbanyak di wilayah Kecamatan Buayan apalagi jika memasuki kawasan pedalaman. Sepanjang perjalanan tampak bukit-bukit kapur menjulang. Beberapa masih tampak potongan bukit yang berwarna putih—tanda baru digali, sebagian lain tampak sudah kecoklatan dan menghitam karena lama atau bekas digali, namun sebagian besar masih belum tersentuh tambang dan ditumbuhi pepohonan.
Kawasan karst Gombong terancam oleh penambangan semen PT Semen Gombong. Hal ini diungkap Thomas Suryono, dari Acintyacunyata Speleological Club (ASC), komunitas susur gua Yogyakarta.
Thomas sudah akrab dengan daerah itu. sejak 1993, ia sering melakukan aktivitas di sana. Pada 1993-1994 itu pula, PT Semen Gombong berencana melakukan penambangan. “Waktu 1997 krisis moneter aktivitas berhenti. Mulai lagi baru-baru ini sampai sudah pembebasan lahan,” ujarnya.
Menurut Thomas, karst Karangbolong/Karst Gombong Selatan tersusun oleh batu gamping yang telah menunjukkan gejala karstifikasi baik di permukaan atau di bawah permukaan. Batuan penyusun Karst Karangbolong merupakan bagian dari Formasi Kalipucang berada d Miosen (11-25 juta tahun yang lalu).
Kawasan karst seluas 4.720 hektar sementara ijin usaha penambangan (IUP ) PT Semen Gombong mencakup 175 hektar dengan bentuk persegi, nyaris membentuk huruf L, memanjang dari utara ke selatan. Hasil riset Thomas bahkan baru di sekitar pinggir kawasan karst, belum di bagian dalam. ‘Susah masuknya,” kata dia.
Formasi ini tersusun oleh batugamping terumbu, batugamping klastik, batulempung, serpih dan batupasir. Batulempung yang terletak pada bagian bawah formasi ini berfungsi ebagai lapisan kedap yang memungkinkan terbentuknya mataair di sepanjang kontak batulempung dengan Batu gamping di atasnya.
Batugamping klastik pada Formasi Kalipucang yang tersusun oleh material berukuran pasir dengan ukuran butir relatif seragam (fine coarse) sehingga memungkinkan memiliki porositas yang cukup baik untuk menyimpan fluida (air).
“Karst Gombong memiliki peranan vital sebagai daya dukung kehidupan masyarakat yang hidup di sekitarnya, terutama dengan banyaknya mata air yang ada di kawasan ini,” ujarnya.
Pemanfaatan mata air ini beragam, dari pemenuhan air baku hingga irigasi untuk kepentingan pertanian. PDAM Kabupaten Kebumen sedikitnya telah memanfaatkan 10 mata air dari kawasan Karst Karangbolong dengan total debit 670 liter/detik setiap hari
Sistem goa dan sungai bawah tanah juga telah berkembang baik di kawasan Karst Karangbolong. Sedikitnya terdapat hampir 200 buah goa yang tersebar di tiga kecamatan, Kecamatan Ayah, Kecamatan Buayan dan Kecamatan Rowokele. Beberapa goa memiliki lorong yang terhubung dengan goa-goa lain membentuk jaringan sistem sungai bawah tanah, beberapa di antaranya memiliki panjang lorong lebih dari empat kilometer.
Di sekitar lokasi IUP PT Semen Gombong sudah dilakukan beberapa kali penelitian dan pendataan goa. Setidaknya ada sekitar 43 mulut goa di dalam dan sekitar lokasi IUP PT Semen Gombong.
Sebab itu, adanya rencana pendirian pabrik semen oleh PT. Semen Gombong dengan mengambil bahan baku batugamping di kawasan Karst Karangbolong merupakan ancaman serius terhadap keberlangsungan hidup warga Gombong, baik yang ada di kawasan karst maupun kawasan sekitarnya.
Ini karena pengupasan permukaan batugamping dikhawatirkan akan menghilangkan fungsi utama kawasan karst sebagai penyerap dan penyimpan air. Lokasi IUP PT Semen Gombong berada di sisi Timur, tepatnya di Kecamatan Buayan, yang masih merupakan formasi Kali Pucang dan berbatasan dengan Formasi Halang.
Dari pendataan yang dilakukan ASC pada 1993, terdapat beberapa sistem sungai bawah tanah dan mata air yang daerah tangkapannya berada di kawasan lokasi tambang batugamping.
“Sumber Banyumudal yang berada di formasi Halang di sebelah utara IUP berada pada batas dua formasi. Dimungkinkan air yang mengalir ke sumber ini berasal dari tangkapan air karst di formasi Kali Pucang. Sumber ini sudah dimanfatkan sejak lama, kini dikelola PDAM untuk mencukupi kebutuhan air bersih bagi 4 kecamatan,” tutur Thomas.
Di dalam IUP sendiri ada tiga sistem air bawah tanah. Dua mata air permukaan yang digunakan sebagai kebutuhan domestik (Kali Teleng I dan Jlegedag) dan satu sungai bawah permukaan di goa Pucung. Goa Pucung mempunyai debit sekitar 40 liter perdetik, mengalir kearah tenggara dan dimungkinkan membentuk sistem yang terhubung secara berurutan dengan goa Candi, goa Kali Winong, dan berakhir di goa Kalisirah.
Meski beberapa goa, mata air, dan sistem airbawah tanah berada di luar IUP PT Semen Gombong, sangat dimungkinkan daerah tangkapan air ada didalam IUP tersebut. “tangkapan air ini luas sulit diukur dengan pasti,” katanya.
Ini karena air hujan yang jatuh di perbukitan karst, akan meresap ke dalam tanah melalui porositas sekunder batugamping yang berupa pori dan celah batugamping menjadi aliran pori.
Aliran pori akan membawa air mengalir ke tempat yang lebih rendah melalui rekahan dan lorong-lorong besar (gua) maupun kecil, menjadi aliran kanal. Hingga akhirnya, air akan muncul lagi di tempat yang lebih rendah, ke permukaan tanah atau pemunculan dibawah permukaan air laut menjadi mataair.
Sifat fisik (porositas dan permeabilitas), struktur geologi, dan morfologi perbukitan karst dengan sempurna telah menangkap, menyimpan dan memelihara air dalam jumlah dan masa tinggal yang ideal dalam sebuah siklus hidrologi. Siklus ini membentuk sebuah kesetimbangan debit yang mengalir dalam sistem air bawah tanah pada tiap musimnya. Sehingga di musim kemarau dapat mencukupi kebutuhan air bagi warga setempat sampai datangnya musim hujan berikutnya.
Berdasarkan pendekatan matematis perhitungan nilai porositas batugamping, tingginya curah hujan dan tebal batugamping terambil, ancaman rencana penambangan batugamping kawasan Karst Karangbolong bisa digambarkan sebagai berikut.
Asumsi nilai porositas batugamping penyusun Karst Karangbolong 20%. Nilai curah hujan rata-rata dalam satu tahun adalah 2000 mm (50% menjadi aliran permukaan, 50 % sisanya terserap tanah 1 m kubik). Adapun asumsi luas lahan calon tambang batugamping 1.750.000 meter persegi dan kemungkinan tebal kupasan batugamping 5 meter. Maka air hujan yang tidak terserap 20% x 1 x 1.750.000 x 5 = 1.750.000 m3.
Jadi volume kehilangan air yang terserap badan batuan dan mengalir pada sistem bawah tanah sebesar 1.750.000 m3 dan akan menjadi aliran permukaan dengan kelerengan yang cukup. Nilai ini menjadi ancaman banjir bandang di kemudian hari.
Kerusakan pada kawasan karst Gombong tidak hanya akan berdampak pada masyarakat dan alam yang bertempat tinggal dalam kawasan ini. Masyarakat diluar kawasan karst yang telah memanfaatkan suplai air bersih dari kawasan ini (Sumber Banyumudal), dan kiriman banjir pada saat musim hujan akan terdampak pula akibat penambangan.
Selain itu, jelas Thomas, Perda RTRW Kabupaten Kebumen nomor 23 tahun 2012 menyebutkan bentang alam karst Gombong ditetapkan menjadi kawasan lindung.
Status hutan untuk sebagian wilayah IUP PT Semen Gombong yang merupakan Kawasan Hutan Produksi Terbatas maupun Kawasan Hutan Produksi Tetap, maka harus mengajukan Ijin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) kepada Kementrian Kehutanan sebelum melaksanakan Eksplorasi dan Ekploitasi.
Peraturan Pemerintah nomor 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional RTRWN menyebutkan secara jelas bahwa terdapat dua alasan penting bahwa bentang alam karst seharusnya menjadi bagian dari Kawasan Lindung Nasional, pertama kawasan karst sebagai daerah resapan air dan kedua kawasan karst karena keunikan morfologinya.
Oleh karena itu, Thomas menegaskan, rencana penambangan karst Gombong melabrak banyak aturan. Namun pihaknya tidak berencana melakukan gugatan hukum. “Kami serahkan pada warga setempat, warga pun sudah mengerti,” ujarnya.
Jika kemudian hasil riset ASC dibantah PT Semen Gombong, thomas maklum. Itu karena studi klayakan mengandalkan data teknis. “Dia juga masuk goa di bawah nggak?” tanya Thomas meragukan.
Saat ini Thomas mendengar proses penambangan tengah menanti sidang AMDAL dan menunggu ijin pinjam pakai kawasan hutan (IPPKH) dari Kementerian Kehutanan.
Manajer lokasi PT Semen Gombong Tineke Sunarni mengatakan belum ada perkembangan apa-apa tentang penambangan oleh perusahaannya. “Ibarat bayi belum lahir tapi sudah heboh,” kata nenek empat cucu ini.
Sejak 1998 ia bekerja di PT Semen Gombong–anak usaha Medco–dan berdinas di Gombong. Menurut dia, berita tentang rencana penambangan PT Semen Gombong berlebihan. Padahal perkembangan rencana itu belum banyak kendati ia enggan mengungkap sejauh mana langkah anak perusahaan Medco itu.
“Saya hanya tukang kebon (penjaga). Tidak kompeten memberikan keterangan teknis. Nanti ada waktunya,” ujar Tineke. Ia hanya membenarkan bahwa lokasi pabrik digunakan untuk jual beli fosfat—yang juga ditambang dari karst Gombong—dengan melibatkan warga sekitar meski nilainya tidak setinggi kapur.
sumber https://arifkoes.wordpress.com/2014/01/21/seribu-problem-semen-kebumen/