This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Senin, 22 Agustus 2016

Wow, Inilah Penerima Dana Asing untuk Kampanye Antirokok

Senin, 22 Agustus 2016 , 22:33:00
 

JAKARTA - Berbagai kampanye antirokok di Indonesia ternyata mendapat dukungan dana dari luar negeri. Salah satu lembaga yang mengucurkan dana untuk kampanye antirokok adalah Bloomberg Initiative (BI).

Lembaga filantropis milik pengusaha kondang Michael Bloomberg itu mengucurkan dana hingga jutaan dolar Amerika Serikat (USD) untuk berbagai lembaga di Indonesia dalam rangka program pengurangan penggunaan tembakau. Penerimanya ada lembaga swadaya masyarakat (LSM), perguruan tinggi, hingga instansi pemerintah.

Aliran dana dari BI itu dibeber dalam situs tobaccocontrolgrants.org. Lembaga yang didirikan Bloomberg Philanthropies pada 2006 itu mengucurkan dananya untuk memengaruhi kebijakan demi mengurangi penggunaan tembakau.
Di Indonesia ada sederet penerima. Di deretan perguruan tinggi ada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI). Dana yang digelontorkan sebesar USD 280.755.

Dana itu untuk memengaruhi pengambil kebijakan tentang pajak dan harga rokok. Programnya dimulai pada Oktober 2008 dan berakhir pada Juli 2011.
Masih di Universitas Indonesia (UI), ada Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) yang juga  menerima dana dari Bloomberg. Jumlahnya mencapai USD 335.866.
Dana itu untuk mendorong reformasi pertembakauan sekaligus menaikkan pajak rokok. Program dari Bloomberg untuk FKM UI itu dimulai pada Februari 2015 dan akan berakhir pada Januari 2017.

Ada juga aliran ke Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Besarnya adalah USD 68.794 untuk menyusun rancangan peraturan tentang pengendalian tembakau dan larangan iklan rokok. Program itu berlangsung mulai Desember 2015 hingga November 2016.

Tapi kucuran dana Bloomberg  yang terbesar justru ke Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan. Jumlahnya mencapai USD 300.000 pada September 2008 hingga Agustus 2011.

Tujuannya adalah untuk mengembangkan strategi pengendalian tembakau. Termasuk mengontrol penggunaan tembakau di tujuh provinsi.

Pada November 2011 hingga Oktober 2013, Direktorat Pengendaliian Penyakit Tidak Menular kembali menerima kucuran hingga USD 300.000 dari Bloomberg. Tujuannya untuk mendorong implementasi UU Kesehatan dengan menerapkan peringatan dan label pada kemasan rokok.

Sedangkan pada Maret 2014-Februari 2016, Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak menular menerima kucuran USD 250.039. Tujuannya untuk peningkatan kapasitas kesehatan masyarakat dalam menerapkan aturan pengendaian tembakau yang efektif.

Dinas Kesehatan Provinsi Bali pun menerima dana dari Bloomberg. Tujuannya untuk mendorong peraturan daerah (perda) kawasan bebas asap rokok di DPRD Bali.

Dana yang digelontorkan sebesar USD 159.621. Programnya berlangsung mulai Maret 2012 dan berakhir pada Februari 2014.
Tapi ada juga LSM yang menerima dana Bloomberg.  Salah satunya adalah ke Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) yang menerima dana USD 455.911.

Dana itu untuk program advokasi hak-hak anak sekaligus mendorong aturan yang melarang iklan rokok secara menyeluruh. Program yang dimulai Mei 2008 itu berakhir pada Januari 2011.

Komnas PA tak hanya sekali menerima dana dari Bloomberg Initiative. Untuk program yang sama, organisasi itu menerima dana USD 200.000 mulai Maret 2011 hingga Februari 2013.
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) juga menerima kucuran dana dari Bloomberg. Demi advokasi untuk implementasi regulasi tentang zona larangan merokok di Jakarta, YLKI mendapat kucuran USD 105.493 mulai Desember 2012 hingga Januari 2014.

Pada Februari 2014 hingga Oktober 2015, YLKI juga menerima kucuran sebesar USD 150.825. Tujuannya untuk kampanye tentang penguatan zona larangan merokok di Jakarta.

Sedangkan pada Mei 2008 hingga Juli 2010, YLKI mendapat kucuran USD 454.480. Tujuannya untuk mengampanyekan larangan iklan rokok dan zona bebas asap rokok di Jawa.

LSM Indonesia Corruption Watch (ICW) pun masuk daftar penerima dana dari Bloomberg. Besarnya USD 47.470 untuk kampanye antirokok dengan mendorong pemerintah agar lebih berani dalam mengeluarkan regulasi terkait tembakau.

Sebuah LSM di Medan, Sumatera Utara bernama Yayasan Pusaka Indonesia juga berkali-kali menerima dana dari Bloomberg. Antara lain USD 32.010 pada November 2011 hingga Desember 2012, USD 74.00 pada Desember 20912 hingga Juli 2014,USD 86.587 pada periode Juli 2014 hingga Deptember 2015, sertaUSD 94.832 pada September 2015.

Tujuannya adalah untuk menerapkan zona larangan merokok di Medan. Termasuk mengadvokasi Peraturan Gubernur Sumut No 35 Tahun 2012 tentang Kawasan Tanpa Rokok di Perkantoran.(ara/jpnn)
 
http://www.jpnn.com/read/2016/08/22/462536/Wow-Inilah-Penerima-Dana-Asing-untuk-Kampanye-Antirokok-

Hilang Jejak Tirto Sepulang dari Pembuangan di Ambon

, CNN Indonesia

Surat Rahasia Mata-mata Belanda tentang Tirto

, CNN Indonesia

Kisah Kebingungan Pramoedya Ananta Toer Soal Tirto

, CNN Indonesia

Tirto Adhi Soerjo, Bapak Pers yang Dilupakan

Rosmiyati Dewi Kandi, CNN Indonesia
Senin, 22/08/2016 09:01 WIB
 
Dokumentasi buku Sang Pemula karya Pramoedya Ananta Toer. 
 
Surat tertanggal 11 Januari 1913 dari Jaksa Agung Hindia Belanda A Bouwer kepada Gubernur Jenderal AWF Idenburg menjelaskan upaya pengucilan pendiri surat kabar Medan Prijaji, Raden Mas Tirto Adhi Soerjo.

Surat itu menerangkan, Majelis Hakim di Betawi telah menyatakan Tirto bersalah karena menulis artikel yang menghina dan memfitnah Bupati dan Patih Rembang, Raden Adipati Djojodiningrat dan Raden Notowidjojo.

Vonis hukuman buang selama enam bulan itu dibacakan pada 24 Desember 1912 atas artikel bertajuk Kelakukan yang Tak Patut yang ditulis Tirto di Medan Prijaji (MP).

Tirto pernah mendapat hukuman yang sama selama dua bulan yaitu pada 18 Maret-19 Mei 1910 ke Telukbetung, Lampung. Saat itu, Tirto memuat artikel berisi dugaan persekongkolan antara Calon Pengawas Purworejo A Simon dengan Wedana Tjokrosentono terkait pengangkatan Lurah Desa Bapangan, Distrik Cangkrep, Purworejo.

Mengutip buku Karya-Karya Lengkap Tirto Adhi Soerjo oleh Iswara N Raditya dan Muhidin M Dahlan, artikel itu terbit di Medan Prijaji Nomor 24 tanggal 30 Juni 1908 dengan judul Betapa Satoe Pertolongan Diartikan.

Artikel tersebut menceritakan kedatangan calon Lurah Bapangan Soerjodimedjo menemui Tirto di Bogor. Soerjodimedjo mengaku mendapat suara terbanyak dalam pemilihan namun tidak ditetapkan sebagai lurah, dan malah ditangkap serta dihukum.

Sebaliknya, calon lurah yang tidak didukung warga justru ditetapkan sebagai pemenang. Tirto melakukan investigasi atas persoalan tersebut.

Dia mengantar Soerodimedjo menemui Gubernur Jenderal JB van Heutsz—yang memerintahkan agar perkara pemilihan Lurah Desa Bapangan diperiksa.

“Dia (Soerjodimedjo) bercerita betapa permohonannya sudah diperiksa yaitu oleh snot-aap Aspirant Controleur dan oleh Mas Tojokrosentono, yang sudah memboikot Medan Prijaji,” tulis Tirto.

Artikel itu lantas digugat Simon ke pengadilan dengan dua tuntutan: menuduh Simon melawan kebenaran, dan penghinaan dengan menggunakan kata snot-app—dalam bahasa Belanda berarti monyet ingusan.

Gugatan pertama ditolak majelis hakim, sementara gugatan kedua terkait penghinaan masih terus berlanjut. Pada masa jabatan van Heutsz, kasus penghinaan ditutup, namun dibuka kembali oleh Gubernur Jenderal AWF Idenburg.

Pada masa Idenburg itulah Tirto dibuang ke Telukbetung. Dalam perkara dengan Bupati dan Patih Rembang, Tirto dianggap melakukan kesalahan yang sama terhadap pejabat umum sehingga kembali dibuang. Kali ini ke Ambon, Maluku. (rdk/agk)
 
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160821211544-20-152832/tirto-adhi-soerjo-bapak-pers-yang-dilupakan/

Senjakala Medan Prijaji yang Tutup Usia Hari Ini

Rosmiyati Dewi Kandi, CNN Indonesia
Senin, 22/08/2016 07:37 WIB
 
Ilustrasi. (Diolah dari Wikipedia) 
 
Bupati Rembang Raden Adipati Djojodiningrat diberitakan melakukan penyalahgunaan kekuasaan, sebagian disebut dilakukan bekerja sama dengan Patih Rembang Raden Notowidjojo. Pada bulan yang sama, sang bupati meninggal dunia karena serangan jantung.

Pemberitaan mengenai Bupati Rembang dimuat dalam surat kabar Medan Prijaji (MP) yang terbit pada 17 Mei 1911. Artikel ini menjadi salah satu dari rentetan peristiwa yang membuat MP harus ditutup secara dramatis pada hari ini, 22 Agustus, 104 tahun silam.

Kematian MP—dikutip dari buku Sang Pemula karya Pramoedya Ananta Toer—diawali oleh publikasi yang tidak menguntungkan oleh dua surat kabar berbahasa Jawa di Jawa Tengah. Meski sebenarnya, artikel dalam berbagai terbitan juga tidak menguntungkan bagi Bupati Rembang saat itu, bukan hanya yang diulas MP.

Beberapa peristiwa lain yang membuat MP gulung tikar adalah sejumlah perusahaan besar mendadak membatalkan iklan serta para finansir Eropa menolak memberi kredit. Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan besar di benak Pram yang belum terjawab dalam Sang Pemula.

MP pertama kali terbit pada 1 Januari 1907, digagas dan dipimpin oleh Raden Mas Tirto Adhi Soerjo. Sebelum menggagas MP, Tirto sudah tercatat sebagai wartawan di surat kabar Soenda Berita.

Saat krisis finansial melanda Soenda Berita, Tirto melakukan perjalanan panjang ke sejumlah daerah untuk menemui raja-raja di luar Jawa, Madura, termasuk menyambangi Maluku dan menemui Sultan Bacan Mohammad Sadik Sjah (1862-1889).

Perjalanan panjang itu dilakukan periode 1905-1906. Dalam MP Tahun III, 1909, berjudul Pendahoeloean M.P. Taoen 1909, Tirto menceritakan perjalanannya menjadi cikal bakal berdirinya MP.

Ketika kembali ke Batavia, Tirto berembuk dengan empat orang yaitu Kepala Jaksa Batavia Raden Mas Prawirodiningrat, Komandan Distrik Tanah Abang Taidji’in Moehandjilin, Komandan Distrik Manggabesar Tamrin Mohamad Tabri, serta Komandan Distrik Penjaringan Bahram.

Pertemuan itu dilakukan untuk membentuk Sarikat Prijaji. Rencana tersebut lantas disebarluaskan ke seluruh penjuru negeri melalui surat kabar Melayu di Hindia Olanda (Indonesia).

Dalam buku karya Iswara N Raditya dan Muhidin M Dahlan bertajuk Karya-Karya Lengkap Tirto Adhi Soerjo, disebutkan, Tirto menyebarkan seruan yang dimuat di media-media massa saat itu.

Seruan Tirto berbunyi, “Kita orang yang bertanda di bawah ini sudah ambil mufakat mendirikan satu perhimpunan antara priyayi-priyayi dan bangsawan Bumiputera, bernama: Sarikat Prijaji, bermula buat Betawi saja, akan nanti bercabang di antero tanah Hindia.” (rdk/agk)
 
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160818230318-20-152358/senjakala-medan-prijaji-yang-tutup-usia-hari-ini/