Ibarat makin jauh panggang
dari api begitulah harapan mengenai kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran
di negeri ini. Ironisnya, di negeri yang sumberdaya alamnya melimpah malah
terpuruk dalam kemiskinan sosial dengan jerat hutang luar negeri yang makin
mencekik. Sebagian dari lalulintas biaya pembangunan yang dananya banyak
bersumber dari hutang ini luar negeri ini masuk ke pundi-pundi para koruptor.
Dan pelaku korupsi di Indonesia didominasi oleh kaum minoritas, yakni para
petinggi negara dan kelas pengusaha.
Kenyataan ini mengemuka dalam aksi unjukrasa mahasiswa yang
tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kebumen.
Angkatan muda yang mencoba membangun progresivitas gerakan ini juga menyitir
pesan mendiang Tan Malaka untuk mengingatkan bangsa yang pernah terjajah di
masa lalu ini; dengan memahami bahwa esensi penjajahan belum lah hilang meski
negeri ini telah merdeka. Tetapi kemerdekaan itu ternyata cuma formalitas
belaka.
Dan korupsi yang telah menjadi budaya elitisme ini makin
memperparah kehidupan bernegara. Negara telah gagal mengemban amanat
sebagaimana tertuang dalam preambule Konstitusi, yakni Untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia, yang melindungi
segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan
keadilan sosial.
Dalam aksi ini PMII Cabang Kebumen menyatakan sikapnya:
- Mosi tidak percaya kepada pemerintahan SBY-BUDIONO
- Tuntaskan kasus-kasus korupsi di negeri ini
- Berantas mafia anggaran
- Hakimi dan adili koruptor tanpa tebang pilih
- Hukum mati pelaku Tipikor
- Hancurkan budaya korupsi elite rakyat
- Turunkan SBY-BUDIONO






0 komentar:
Posting Komentar