This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rabu, 20 November 2013

Batalkan Pembangunan Pabrik Semen di Bukit Karst Gombong Selatan



PENAMBANGAN bukit karst Gombong selatan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kawasan selatan Jateng kaya dengan karst, bahan baku pembuatan semen. Karst adalah daerah serapan air paling bagus, sehingga keberadaan pabrik semen menyebabkan krisis air bersih.* Eviyanti/"PRLM"

KEBUMEN, (PRLM).- Pemerintah diminta untuk membatalkan rencana pembangunan pabrik semen di barisan bukit karst Gombong selatan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Penambangan kars bahan baku semen dianggap merusak lingkungan dan mengganggu ketersediaan air bersih di Jawa bagian selatan.

Pemerintah sudah menetapkan bahwa kawasan karst sebagai kawasan konservasi. Akan tetapi di sisi lain memperbolehkan investor membangun pabrik semen.

“Ini kan jadi aneh, kalau kawasan karst dijadikan sebagai wilayah konservasi, tapi kenapa pemerintah mengizinkan untuk dibongkar,” kata Koordinator Jaringan Advokasi Tambang, Hendrik Siregar, Selasa (19/11/2013).

Jateng selatan kaya dengan karst, bahan baku pembuatan semen. Namun karst adalah daerah serapan air paling bagus. "Keberadaan pabrik semen di Gombong menyebabkan Jawa mengalami krisis air bersih. Sehingga pemerintah harus membatalkannya,” terangnya.
Penambangan bukit kapur itu dinilai hanya akan menambah kerusakan lingkungan dan terganggunya ketersediaan air bersih.

Rencananya PT Semen Gombong, anak usaha PT Medco milik pengusaha Arifin Panigoro akan menambang bukit kapur Gombong selatan, tepatnya di Kecamatan Buayan dan Rowokele, sedangkan lokasi pabrik di Desa Nogoraji Kecamatan Buayan.

Padahal barisan bukit karst di Gombong selatan, kata Hendrik sangat kaya akan gua alam tersebut. Izin penambangan hingga 200 tahun ke depan, dengan kapasitas produksi mencapai 1,8-2 juta ton per tahun.

Khusus untuk luas lahan pembangunan pabrik semen mencapai luas 50 hektare. Sedangkan bukit kapur yang akan ditambang seluas 271 ha serta 231 ha untuk tambang tanah liat sebagai campuran bahan semen.

Sementara Geologis PT Semen Gombong I Wayan Tirka Laksana, mengatakan, pabrik yang akan dibangun nantinya menggunakan tehnologi ramah lingkungan. "Kita upayakan tidak akan ada debu atau menurunkan pasokan air," terangnya.

Selain itu, dari 270 ha hektare total luas bukit kapur yang sudah dibebaskan, hanya 60 persen saja yang akan ditambang atau hanya sekitar 3-5 persen dari total luas karst Gombong yang mencapai 5.093 hektare.

Kepala Seksi Perizinan Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu dan Penanaman Modal Kabupaten Kebumen, Karyanto mengatakan, Izin Mendirikan Bangunan (IMB) kompleks pabrik sudah dikantongi PT Semen Gombong.

"Luas sebaran batu gamping di wilayah pegunungan karst Gombong selatan seluas 5083,5 ha atau setara dengan 389,25 juta metrik ton. Jadi jika ditambang selama 100 tahun tidak akan habis," jelasnya. (A-99/A_88)***


Senin, 18 November 2013

Pembangunan pabrik semen Gombong ancam persediaan air bersih

Reporter : Chandra Iswinarno | Senin, 18 November 2013 23:46 

Penambang kapur di Gombong. ©2013 Merdeka.com


Merdeka.com - Aktivis lingkungan minta rencana pembangunan pabrik semen PT Gombong di Desa Nogoraji Kecamatan Buayan Kebumen Jawa Tengah segera dihentikan. Mereka khawatir pembangunan tersebut akan berdampak pada terganggunya pasokan air bersih dan persoalan lingkungan lainnya.

Anggota Presidium Dewan Kehutanan Nasional (DKN) Kamar Masyarakat Regio Jawa Tengah, Sungging Septivianto mengatakan, deretan bukit karst di Gombong Selatan merupakan wilayah perlindungan air yang sangat penting bagi untuk masyarakat sekitar. Menurutnya, jika kawasan ini ditambang secara besar-besaran maka akan berdampak terhadap keberlanjutan pasokan air.

Selain itu, dia juga meminta supaya penambangan kapur yang dilakukan rakyat juga harus dikendalikan. "Kalau ini terus dilakukan, daya dukung lingkungan Pulau Jawa terus menurun akibat pesatnya pertumbuhan penduduk dan pembangunan. Apalagi, Kebumen merupakan salah satu daerah yang sangat rawan longsor dan banjir," katanya, Senin (18/11).

Terpisah, Koordinator Jaringan Advokasi Tambang, Hendrik Siregar menegaskan penambangan bukit karst di Gombong selatan akan menambah rusak lingkungan dan terganggunya pasokan air bersih dari gua kapur yang ada. "Pemerintah daerah harus menolak pabrik ini, Jawa semakin kritis ketersediaan air bersihnya," katanya.

Menurutnya, Pulau Jawa, kaya akan kapur yang menjadi bahan mentah pembuatan semen. Di sisi lain, wilayah karst merupakan daerah serapan air paling bagus sehingga ketersediaan air di Jawa bisa semakin kritis. Dia mengakui, pemerintah tidak konsisten dengan menetapkan kawasan karst sebagai kawasan konservasi tapi di sisi lain memperbolehkan investor membangun pabrik semen.

"Aneh, jika memang ditetapkan menjadi kawasan konservasi mengapa harus dibongkar," ujarnya.

Dari Analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal) PT Semen Gombong di tahun 1996, anak usaha PT Medco berencana menambang bukit kapur Gombong selatan. Dari perencanaan tersebut, perbukitan karst di Gombong Selatan akan ditambang hingga 200 tahun ke depan dengan kapasitas produksi mencapai 1,8-2 juta ton per tahun.

Saat ini, pabrik PT Semen Gombong sudah berlokasi di Desa Nogoraji Kecamatan Buayan dengan persiapan lahan seluas 50 hektare. Sedangkan, lahan yang akan ditambang mencapai 501 hektare dengan rincian luas bukit kapur yang akan ditambang 271 hektare dan untuk tambang tanah liat sebagai campuran bahan semen, mencapai sekitar 231 hektare. Kedua lahan tersebut berada di Kecamatan Buayan dan Rowokele.

Geologist PT Semen Gombong, I Wayan Tirka Laksana, sebelumnya menjamin pabrik yang akan dibangun nantinya menggunakan teknologi ramah lingkungan. Selain itu, ia mengungkapkan dampak kerusakan lingkungan akibat penambangan kapur akan terminimalisasi dengan penggunaan teknologi modern.

"Dari rancangan yang dibuat, pembangunan pabrik akan meminimalkan dampak debu, bahkan tidak akan ada debu. Selain itu, kami akan menjamin pasokan air melimpah yang bisa digunakan masyarakat sekitar pabrik," katanya.

Dari hasil survei Dinas Sumber Daya Air dan Energi Sumber Daya Mineral (SDA ESDM) Kebumen menyebutkan, luas sebaran batu gamping di wilayah pegunungan karst Gombong selatan seluas 5083,5 hektare. Jumlah tersebut setara dengan 389,25 juta metrik ton. "Jika ditambang selama 100 tahun, jumlah tersebut tidak akan habis," kata Kepala Seksi Perizinan Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal Kabupaten Kebumen, Karyanto.


[hhw]

http://www.merdeka.com/peristiwa/pembangunan-pabrik-semen-gombong-ancam-persediaan-air-bersih.html

Penambangan Karst Gombong Ancam Gua Penyedia Air

Senin, 18 November 2013 | 17:53 WIB

TEMPO/Prima Mulia

TEMPO.CO, Kebumen - Keberadaan 122 gua di kawasan karst Gombong selatan, Jawa Tengah, terancam jika pembangunan pabrik semen PT Semen Gombong dilanjutkan. “Kami sudah melakukan penelitian di calon lokasi tambang. Jika diteruskan tiga-empat tahun lagi, Kebumen akan krisis air bersih,” kata Thomas Suryono, peneliti dari Acintyacunyata Speleological Club Yogyakarta, Senin, 18 November 2013.

Dia menjelaskan, mata air dari ratusan gua itu sudah dimanfaatkan penduduk sebagi sumber mata air yang melimpah. Di calon lokasi tambang, ada batuan formasi Kali Pucang dan Halang yang membentuk sumber mata air raksasa Banyumudal. Sumber mata air inilah yang saat ini dimanfaatkan PDAM untuk penduduk di lima kecamatan.

Ada tiga gua dengan sumber mata air bawah tanah yang akan terdampak jika tambang tetap dilanjutkan. Tiga gua itu yakni Gua Pucung, Gua Jeblosan, dan Gua Candi. Ribuan orang menggantungkan air bersih dari ketiga gua ini. Selain gua bakal terpotong, daerah tangkapan air juga akan berkurang. “Jika batu kapur ini hilang, maka daerah sekitarnya akan terkena banjir dan longsor seperti di Bukit Kendeng Pati,” kata Thomas.

Batuan penyusun karst Gombong merupakan bagian dari Formasi Kalipucang yang berumur miosen (11-25 juta tahun lalu). Berdasarkan batuan penyusunnya, kawasan ini merupakan tempat terbaik sebagai penyerap dan penyimpan air. Sebaliknya, jika karst ditambang, 1,7 juta meter kubik air akan menjadi air permukaan dan langsung mengalir ke daerah sekitarnya.

Geologist PT Semen Gombong, I Wayan Tirka Laksana, membantah ada gua di bukit kapur yang akan ditambang. “Tidak ada gua di lahan kami,” katanya. Dia menyebutkan, bukit kapur yang akan ditambang hanya sekitar 3-5 persen dari total kawasan karst Gombong yang luasnya 4.894 hektare. Menurut dia, lokasi tambang PT Semen Gombong berada di kawasan timur karst Gombong, sedangkan gua itu berada di kawasan barat.

PT Semen Gombong adalah anak perusahaan Grup Medco milik pengusaha Arifin Panigoro. Total luas lahan yang akan ditambang ditambah pabrik mencapai 500 hektare di Kecamatan Buayan dan Rowokele. Proyek ini menunggu pembuatan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal).

Menurut Kepala Badan Lingkungan Hidup Kebumen, Masagus Herunoto, amdal masih disusun. “Penyusunan amdal akan memperhatikan kawasan itu sebagai kawasan lindung dan penyerap air,” katanya. Menurut dia, bukit kapur yang akan ditambang berada di luar kawasan lindung. “Kami juga akan melihat apakah warga sekitar tambang mengizinkan apa tidak.”

ARIS ANDRIANTO

http://www.tempo.co/read/news/2013/11/18/206530565/Penambangan-Karst-Gombong-Ancam-Gua-Penyedia-Air

Rencana Pembangunan Pabrik Semen Gombong Diminta Dihentikan

Posted On 18 Nov 2013 | by : ajipwt

KEBUMEN – Jaringan Advokasi Tambang meminta pemerintah daerah membatalkan rencana pembangunan pabrik semen di barisan bukit karst Gombong selatan. Penambangan bukit kapur itu dinilai hanya akan menambah kerusakan lingkungan dan terganggunya ketersediaan air bersih.

“Pemerintah daerah harus menolak pabrik ini, Jawa semakin kritis ketersediaan air bersihnya,” kata Koordinator Jaringan Advokasi Tambang, Hendrik Siregar, Ahad (17/11).
PT Semen Gombong, anak usaha PT Medco berencana menambang bukit kapur Gombong selatan. Bukit yang kaya akan gua alam itu akan ditambang hingga 200 tahun ke depan. Kapasitas produksinya mencapai 1,8-2 juta ton per tahun.

Pabrik itu rencananya akan dibangun di lahan seluas 50 hektare. Sedangkan bukit kapur yang akan ditambang seluas 271 hektare dan 231 hektare untuk tambang tanah liat sebagai campuran bahan semen. Lahan tersebut berada di Kecamatan Buayan dan Rowokele, sedangkan lokasi pabrik di Desa Nogoraji Kecamatan Buayan.

Hendrik mengatakan, proyek MP3EI merupakan biang keladi pembangunan yang tak prolingkungan. Akibatnya, pemerintah membabi buta melakukan penambangan untuk mendukung proyek itu, terutama infrastruktur.

Jawa, kata dia, kaya akan karst yang menjadi bahan mentah pembuatan semen. Di sisi lain, karst merupakan daerah serapan air paling bagus sehingga ketersediaan air di Jawa bisa semakin kritis.

Menurut dia, pemerintah munafik dengan menetapkan kawasan karst sebagai kawasan konservasi tapi di sisi lain memperbolehkan investor membangun pabrik semen. “Aneh, kalau kawasan konservasi mengapa harus dibongkar,” ujarnya.

Sungging Septivianto, Anggota Presidium Dewan Kehutanan Nasional Kamar Masyarakat Regio Jawa Tengah mengatakan, kawasan karst Gombong merupakan wilayah perlindungan air yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat sekitar.
“Jika kawasan ini ditambang secara besar-besaran maka akan berdampak terhadap keberlanjutan pasokan air,” katanya.

Selain sebagai penyedia air, kawasan hutan karst Gombong juga berfungsi sebagai penghasil kayu Jati terbaik dan sebagai lahan pangan masyarakat. Selain harus menghentikan penambangan yang dilakukan secara besar-besaran, penambangan rakyat juga harus dikendalikan.

Menurut dia, daya dukung lingkungan Pulau Jawa terus menurun akibat pesatnya pertumbuhan penduduk dan pembangunan. “Apalagi menurut data BNPB, Kebumen merupakan salah satu daerah yang sangat rawan longsor dan banjir,” katanya.

I Wayan Tirka Laksana, Geologist PT Semen Gombong mengatakan, pabrik yang akan dibangun nantinya menggunakan tehnologi ramah lingkungan. “Tidak aka nada debu dan pasokan air justeru akan melimpah,” katanya.

Menurut dia, pengusaha Arifin Panigoro yang memiliki PT Semen Gombong sangat perhatian dengan isu lingkungan. Nantinya, angkutan produk dan batu bara sebagai bahan bakar, akan menggunakan kereta api sehingga mengurangi dampak polusi udara.

Dari 270 hektare total luas bukit kapur yang sudah dibebaskan, kata dia, hanya 60 persen saja yang akan ditambang. “Jumlah tersebut hanya sekitar 3-5 persen dari total luas karst Gombong yang mencapai 5.093 hektare,” kata dia.

Kepala Seksi Perizinan Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu dan Penanaman Modal Kabupaten Kebumen, Karyanto mengatakan, Izin Mendirikan Bangunan (IMB) kompleks pabrik sudah dikantongi PT Semen Gombong. “Pendirian pabrik masih menunggu keluarnya Amdal,” katanya.

Ia mengatakan, berdasarkan survey Dinas Sumber Daya Air dan Energi Sumber Daya Mineral (SDA ESDM) Kebumen menyebutkan, luas sebaran batu gamping di wilayah pegunungan karst Gombong selatan seluas 5083,5 hektare. Jumlah tersebut setara dengan 389,25 juta metrik ton. “Jika ditambang selama 100 tahun, jumlah tersebut tidak akan habis,” katanya.

http://ajikotapurwokerto.or.id/2013/11/18/rencana-pembangunan-pabrik-semen-gombong-diminta-dihentikan/

Penambangan Karst Gombong Ancam Ratusan Gua Penyedia Air

18 Nov 2013 | by : ajipwt

KEBUMEN – Berdasarkan catatan komunitas pecinta gua yang tergabung dalam Acintyacunyata Speleological Club Yogyakarta, terdapat 122 gua di kawasan Karst Gombong selatan. Keberadaannya terancam jika pendirian pabrik semen PT Semen Gombong dilanjutkan.

“Kami sudah melakukan penelitian di calon lokasi tambang, jika diteruskan 3-4 tahun lagi Kebumen akan krisis air bersih,” kata Thomas Suryono, salah satu peneliti dari Acintyacunyata Speleological Club Yogyakarta, Senin (18/11).

Ia mengatakan, mata air dari ratusan gua itu sudah dimanfaatkan masyarakat setempat sebagi sumber mata air yang melimpah. Di calon lokasi tambang, kata dia, ada batuan formasi Kali Pucang dan Halang yang membentuk sumber mata air raksasa Banyumudal. Sumber mata air inilah yang saat ini dimanfaatkan oleh PDAM untuk penduduk di lima kecamatan.

Ada tiga gua dengan sumber mata air bawah tanah yang akan terdampak jika tambang tetap dilanjutkan. Tiga gua itu yakni, Gua Pucung, Jeblosan dan gua Candi. Ribuan orang menggantungkan air bersih dari ketiga gua ini.

Selain gua yang bakal terpotong akibat adanya tambang, daerah tangkapan air juga akan berkurang. Menurut Thomas, kawasan karst sifatnya seperti spons yang menyerap air saat musim hujan. “Jika batu kapur ini hilang, maka daerah sekitarnya akan terkena banjir dan longsor seperti di Bukit Kendeng Pati,” katanya.

Ia menambahkan, batuan penyusun Karst Gombong merupakan bagian dari Formasi Kalipucang yang berumur Miosen (11-25 juta tahun yang lalu). Berdasarkan batuan penyusunnya, kawasan ini merupakan tempat terbaik sebagai penyerap dan penyimpan air.
Saat ini, kata dia, PDAM sedikitnya sudah memanfaatkan 10 titik sumber mata air yang ada di gua ini. Total air yang dimanfaatkan setiap harinya mencapai 670 liter/detik.

Gua-gua tersebut, kata Thomas, seperti jaring laba-laba putih yang membentuk sistem sungai bawah tanah. Beberapa di antaranya memiliki panjang lorong lebih dari empat kilometer. “Bahkan ada gua yang harus ditelusuri menggunakan perahu karet karena dalam dan lebar sungai dalam tanahnya,” katanya.

Masih menurut Thomas, rencana pendirian pabrik semen oleh PT. Semen Gombong dengan mengambil bahan baku batugamping di kawasan Karst Gombong merupakan ancaman serius terhadap keberlangsungan hidup warga Gombong, baik yang ada di kawasan karst maupun kawasan sekitarnya. Pengupasan permukaan batugamping dikhawatirkan akan menghilangkan fungsi utama kawasan karst sebagai penyerap dan penyimpan air.
Jika karst ditambang, kata dia, sekitar 1,7 juta meter kubik air akan menjadi air permukaan dan langsung mengalir ke daerah sekitarnya. “Dampaknya akan menjadi banjir dan longsor,” katanya.
Geologist PT Semen Gombong, I Wayan Tirka Laksana membantah ada gua di bukit kapur yang akan ditambang. “Tidak ada gua di lahan kami,” katanya.

Ia menyebutkan, bukit kapur yang akan ditambang hanya sekitar 3-5 persen dari total kawasan karst Gombong yang luasnya mencapai 4.894 hektare. Menurut dia, lokasi tambang PT Semen Gombong berada di kawasan timur karst Gombong. Sedangkan gua yang terbentuk puluhan juta tahun lalu itu, disebutnya berada di kawasan barat.

PT Semen Gombong merupakan anak perusahaan Grup Medco milik pengusaha Arifin Panigoro. Total luas lahan yang akan ditambang ditambah pabrik mencapai 500 hektare di Kecamatan Buayan dan Rowokele. Pendirian pabrik saat ini sedang menunggu pembuatan Amdal.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Kebumen, Masagus Herunoto, Amdal masih disusun. “Masih dalam tahap awal,” katanya.

Ia mengatakan, penyusunan Amdal akan memperhatikan kawasan tersebut sebagai kawasan lindung dan kawasan penyerap air. Dengan Amdal, kata dia, akan terlihat dampaknya seperti apa untuk lingkungan dan masyarakat.

Menurut dia, bukit kapur yang akan ditambang berada di luar kawasan lindung. Penyusunan Amdal bisa memakan waktu karena melihat apakah dampaknya kompleks atau tidak. “Kami juga akan melihat apakah warga sekitar tambang mengizinkan apa tidak,” katanya.

http://ajikotapurwokerto.or.id/2013/11/18/penambangan-karst-gombong-ancam-ratusan-gua-penyedia-air/

Minggu, 17 November 2013

Pabrik Semen Gombong Dinilai Akan Rusak Lingkungan

Minggu, 17 November 2013 | 14:20 WIB

Penambang kapur di Desa Kalisari Kecamatan Buayan kebumen sedang menambang di ketinggian 40 meter, Ahad (17/11). TEMPO/Aris Andrianto

TEMPO.CO, Kebumen - Jaringan Advokasi Tambang meminta pemerintah daerah membatalkan rencana pembangunan pabrik semen di barisan bukit Kawasan Karst Gombong Selatan.

Penambangan bukit kapur itu dinilai hanya akan menambah kerusakan lingkungan dan mengganggu ketersediaan air bersih. ”Pemerintah daerah harus menolak pabrik ini, Jawa semakin kritis ketersediaan air bersihnya,” kata Koordinator Jaringan Advokasi Tambang, Hendrik Siregar, Ahad 17 November 2013.

PT Semen Gombong, anak usaha PT Medco, berencana menambang bukit kapur Gombong selatan. Bukit yang kaya akan gua alam itu akan ditambang hingga 200 tahun ke depan. Kapasitas produksi penambangan mencapai 1,8-2 juta ton per tahun. Lahan tersebut berada di Kecamatan Buayan dan Kecamatan Rowokele, sedangkan lokasi pabrik berada di Desa Nogoraji, Kecamatan Buayan.

Hendrik mengatakan, Jawa kaya akan karst yang menjadi bahan mentah pembuatan semen. Di sisi lain, karst merupakan daerah serapan air yang paling bagus sehingga ketersediaan air di Jawa bisa semakin kritis. ”Aneh, kalau kawasan konservasi mengapa harus dibongkar,” ujarnya.

Sungging Septivianto, anggota Presidium Dewan Kehutanan Nasional Kamar Masyarakat Regio Jawa Tengah, mengatakan bahwa kawasan karst Gombong merupakan wilayah perlindungan air yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat sekitar. “Jika kawasan ini ditambang secara besar-besaran maka akan berdampak terhadap keberlanjutan pasokan air,” katanya.

Selain sebagai penyedia air, kawasan hutan karst Gombong juga berfungsi sebagai penghasil kayu Jati terbaik dan lahan pangan masyarakat. Selain harus menghentikan penambangan yang dilakukan secara besar-besaran, penambangan rakyat juga harus dikendalikan guna menyelamatkan kawasan karst.

Menurut dia, daya dukung lingkungan Pulau Jawa terus menurun akibat pesatnya pertumbuhan penduduk dan pembangunan. “Apalagi menurut data BNPB, Kebumen merupakan salah satu daerah yang sangat rawan longsor dan banjir,” katanya.

I Wayan Tirka Laksana, geologis PT Semen Gombong mengatakan bahwa pabrik yang akan dibangun nantinya menggunakan teknologi ramah lingkungan. “Tidak akan ada debu dan pasokan air justru akan melimpah,” katanya.

Menurut dia, pengusaha Arifin Panigoro yang memiliki PT Semen Gombong sangat memperhatikan isu lingkungan. Nantinya, angkutan produk dan batu bara sebagai bahan bakar akan menggunakan kereta api sehingga mengurangi dampak polusi udara.

Dari 270 hektare total luas bukit kapur yang sudah dibebaskan, kata dia, hanya 60 persen saja yang akan ditambang. “Jumlah tersebut hanya sekitar 3-5 persen dari total luas karst Gombong yang mencapai 5.093 hektare,” kata dia.

Kepala Seksi Perizinan Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal Kabupaten Kebumen, Karyanto mengatakan bahwa izin mendirikan bangunan kompleks pabrik sudah dikantongi PT Semen Gombong. “Pendirian pabrik masih menunggu keluarnya amdal,” katanya.

Ia mengatakan, berdasarkan survei Dinas Sumber Daya Air dan Energi Sumber Daya Mineral Kebumen, luas persebaran batu gamping di wilayah pegunungan karst Gombong selatan adalah 5083,5 hektare. Jumlah tersebut setara dengan 389,25 juta metrik ton. “Jika ditambang selama 100 tahun, jumlah tersebut tidak akan habis,” katanya.

ARIS ANDRIANTO

http://www.tempo.co/read/news/2013/11/17/058530265/Pabrik-Semen-Gombong-Dinilai-Akan-Rusak-Lingkungan

Jumat, 15 November 2013

Masyarakat Gombong Resahkan Pendirian Pabrik Semen

15 Nov 2013 | by : ajipwt
 
KEBUMEN – Rencana pendirian pabrik semen oleh PT Semen Gombong diresahkan oleh warga di sekitar perbukitan karst Gombong selatan. Mereka khawatir, penambangan bukit kapur itu akan mengurangi pasokan air bersih ke desa mereka.

“Selama ini kami mengandalkan air bersih dari gua-gua yang ada di perbukitan kapur,” kata Muhroni, 37 tahun, penambang kapur rakyat di Desa Kalisari Kecamatan Rowokele Kebumen, Kamis (14/11).

Ia mengatakan, warga setempat sangat menggantungkan air bersih dari gua untuk kebutuhan sehari-hari dan mengairi sawah. Jika ada pabrik semen, kata dia, ia khawatir pasokan air bersih bisa menurun.

Mujito, 40 tahun, penambang lainnya mengatakan, selain khawatir dengan dampak lingkungan, ia juga mempertanyakan izin yang diberikan pemerintah untuk mendirikan pabrik itu. “Selama ini kami penambang dicap sebagai penambang illegal, tapi mengapa pabrik semen yang jauh lebih banyak mengambil kapur, mereka izinkan,” ujar Mujito.

Ia meminta keadilan kepada pemerintah untuk memperhatikan para penambang rakyat. Selama ini, kata dia, mereka menggantungkan mata pencaharian sebagai penambang dengan penghasilan Rp 130 ribu per hari.

Sepanjang jalan di samping perbukitan karst Gombong, bukit hijau mulai kelihatan memutih. Di tebing-tebingnya, warna keputihan akibat penambangan rakyat terlihat cukup mencolok. Lansekap gundukan bukit hijau hampir terlihat sudah tak ada yang utuh lagi.

Site Manager PT Semen Gombong, Tineke Sunarni saat ditemui di ruang kerjanya mengatakan, saat ini mereka tinggal menunggu keluarnya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) pendirian pabrik. “Kami ingin Amdal segera keluar agar pendirian pabrik segera terwujud,” katanya.

Ia mengatakan, Amdal sebenarnya sudah keluar tahun 1998. Namun, karena ada krisis moneter saat itu, pembangunan pabrik ditunda. Mereka kini harus membuat Amdal baru untuk memulai pembangunan pabrik.

Menurut dia, PT Semen Gombong mentargetkan tahun 2015 semua perizinan sudah selesai. Semantara pembebasan lahan untuk pabrik dan bukit kapur sudah selesai sejak tahun 1996.

PT Semen Gombong merupakan perusahaan milik pengusaha Arifin Panigoro, pemilik PT Medco. Untuk membangun pabrik semen itu, Medco mengeluarkan investasi senilai 300-350 juta Dolar Amerika.

Dari dokumen Amdal milik PT Semen Gombong, bukit kapur tersebut akan ditambang hingga 200 tahun ke depan. Kapasitas produksinya mencapai 1,8-2 juta ton per tahun.
Tineke mengatakan, pabrik itu rencananya akan dibangun di lahan seluas 50 hektare. Sedangkan bukit kapur yang akan ditambang seluas 271 hektare dan 231 hektare untuk tambang tanah liat sebagai campuran bahan semen. Lahan tersebut berada di Kecamatan Buayan dan Rowokele, sedangkan lokasi pabrik di Desa Nogoraji Kecamatan Buayan.

Ia memastikan, pabrik itu tidak akan merusak lingkungan. Perusahaannya akan menggunakan teknologi Jerman yang ramah lingkungan. “Tidak akan ada debu dan air bersih justeru akan melimpah,” katanya.

Kepala Seksi Perizinan Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu dan Penanaman Modal Kabupaten Kebumen, Karyanto mengatakan, Izin Mendirikan Bangunan (IMB) kompleks pabrik sudah dikantongi PT Semen Gombong. “Pendirian pabrik masih menunggu keluarnya Amdal,” katanya.

Ia mengatakan, berdasarkan survey Dinas Sumber Daya Air dan Energi Sumber Daya Mineral (SDA ESDM) Kebumen menyebutkan, luas sebaran batu gamping di wilayah pegunungan karst Gombong selatan seluas 5083,5 hektare. Jumlah tersebut setara dengan 389,25 juta metrik ton.
“Jika ditambang selama 100 tahun, jumlah tersebut tidak akan habis,” katanya.

Penambang Rakyat Versus Pabrik Semen

Gerobak kuda milik Sumaryoto, 45 tahun, terus saja bergerak. Batu kapur sebanyak satu kuintal harus dibawa kuda miliknya dari lokasi tambang menuju rumah pemngolahan batu kapur tradisional.

“Untuk menghemat tenaga dan baiaya,” kata Sumaryoto, di lokasi tambang Desa Kalisari Kecamatan Rowokele Kebumen, Kamis (14/11).

Ia bersama ratusan penambang lainnya, sudah menggeluti pekerjaan itu selama puluhan tahun. Dalam sehari, kata dia, ia bisa mengantongi uang Rp 130 ribu.
Muhroni, penambang lainnya mengatakan, tambang rakyat sudah ada sejak tahun 1975. “Saya sudah puluhan tahun menambang, ini sumber hidup saya,” katanya.

Selain menambang di bukit kapur milik sendiri, banyak penambang yang bekerja di lokasi tambang milik orang lain. Pemilik tambang biasanya menyewa lahan sebesar Rp 20 juta selama setahun.

Agar tak cepat habis, penambang melarang penggunaan alat berat untuk menghancurkan tebing. Mereka juga tidak akan menambang di sekitar gua yang di dalamnya ada aliran air.
Mujito, peambang lainnya, mengaku resah dengan rencana pendirian pabrik semen PT Semen Gombong.
“Sebuah ironi, kami dilarang menambang sementara aka nada pendirian pabrik semen,” katanya.

Ia tak tahu lagi harus bekerja apa selain menjadi penambang rakyat. Menurut dia, hampir seluruh warga Desa Kalisari bekerja sebagai penambang
.
[Slamet Nusa]
http://ajikotapurwokerto.or.id/2013/11/15/masyarakat-gombong-resahkan-pendirian-pabrik-semen/

Rencana pembangunan pabrik semen resahkan warga Gombong

Reporter : Chandra Iswinarno | Jumat, 15 November 2013 09:57

Merdeka.com - Penambang kapur yang ada di kawasan Gombong selatan, tepatnya Kecamatan Rowokele dan Buayan Kabupaten Kebumen gelisah dengan rencana pendirian pabrik semen PT Gombong di kawasan tersebut. Kegelisahan tersebut diungkapkan salah satu penambang tradisional di Desa Kalisari Kecamatan Rowokele, Mujito (40).

Mujito mengemukakan, pembangunan pabrik semen di dekat daerah pegunungan karst wilayah Gombong selatan perlu dipertanyakan. "Jika benar pemerintah diperbolehkan dan mengizinkan perusahaan semen mengambil kapur di daerah sini, rasanya tidak adil karena kami saja yang selama ini menggantungkan hidup dari kapur dianggap ilegal," ujar Mujito, Kamis (15/11).

Mujito berharap pemerintah bisa berlaku adil dan memperhatikan penambangan rakyat yang selama ini menjadi tumpuan hidup sebagian besar masyarakat desa. "Selama ini kami tidak tahu harus mencari pekerjaan apa lagi, karena tanah di sini tidak bisa ditanami. Satu-satunya bertahan ya dengan menjadi penambang kapur," paparnya.

Keresahan Mujito juga diakui warga sedesanya, Muhrino (37). Warga yang tinggal dekat dengan bukit kapur Kalisari ini mengaku sering kesulitan air bersih. Ia bertambah khawatir, lantaran pendirian pabrik semen bisa mengurangi pasokan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari warga.

"Saat musim sekarang saja pasokan belum mencukupi untuk kebutuhan warga, apalagi selama ini kami mengandalkan gua yang ada di perbukitan sebagai sumber air," ujarnya.

Terpisah, Site Manager PT Semen Gombong, Tineke Sunarni, mengatakan saat ini pihaknya tengah menunggu keluarnya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) pendirian pabrik. Ia mengatakan, Amdal untuk pendirian pabrik semen PT Semen Gombong di Desa Nogoraji Kecamatan Buayan, sebenarnya sudah keluar tahun 1998. Tetapi hantaman krisis moneter membuat pembangunan pabrik ditunda.

"Kami sekarang harus membuat Amdal baru untuk memulai pembangunan pabrik," ujarnya.

Menurut dia, Amdal PT Semen Gombong menjadi dokumen terakhir persyaratan untuk mensahkan perizinan pembangunan pabrik semen. Meski belum keluar izin Amdal, ia menargetkan tahun 2015 semua perizinan sudah selesai. PT Semen Gombong merupakan salah satu perusahaan milik pengusaha Arifin Panigoro, pemilik PT Medco. Dalam pembangunan pabrik semen ini, Medco mengeluarkan investasi senilai USD 300-350.

Tineke mengatakan, nantinya kapasitas produksi pabrik bisa mencapai 1,8-2 juta ton per tahun. Pabrik semen itu sendiri, rencananya akan dibangun di lahan seluas 50 hektare. Sedangkan bukit kapur yang akan ditambang seluas 271 hektare dan 231 hektare untuk tambang tanah liat sebagai campuran bahan semen. "Lahan tersebut berada di Kecamatan Buayan dan Rowokele," jelasnya..

Ia memastikan, pabrik itu tidak akan merusak lingkungan. Perusahaannya akan menggunakan teknologi Jerman yang ramah lingkungan. "Tidak akan ada debu dan air bersih justeru akan melimpah," katanya.

Kepala Seksi Perizinan Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal Kabupaten Kebumen, Karyanto mengatakan, PT Semen Gombong masih menunggu keluarnya Amdal. Ia mengatakan, berdasarkan survei Dinas Sumber Daya Air dan Energi Sumber Daya Mineral (SDA ESDM) Kebumen, luas sebaran batu gamping di wilayah pegunungan karst Gombong selatan seluas 5083,5 hektare. Jumlah tersebut setara dengan 389,25 juta metrik ton.
[hhw]

http://www.merdeka.com/peristiwa/rencana-pembangunan-pabrik-semen-resahkan-warga-gombong.html

Rabu, 06 November 2013

Izin Tambang Karst Bertebaran, Pulau Jawa Terancam

 | 

Penambangan Karst [Gombong] Sudah Merisaukan

November 6, 2013 @ 12:08 pm

Jakarta, EnergiToday--Beban ekologi Pulau Jawa saat ini sedang terancam. Data Jaringan Advokasi Tambang menyebutkan dari hasil investigasi Jaringan Advokasi Tambang menemukan angka yang fantastik dalam data sebaran tambang Kars di Pulau Jawa.

Hingga tahun 2013, jumlah izin tambang Karst  yang tersebar di Pulau Jawa berjumlah 76 Izin, yang berada di 23 Kabupaten, 42 Kecamatan  dan 52 Desa dengan total luas Konsesi Tambang Karst Seluas  34.944,90 Ha

Manajer Penggalangan Dukungan Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Andika mengatakan sebaran tambang Karst berada di titik vital, terutama daerah pegunungan yang merupakan cadangan air bagi warga setempat. Juga merupakan resapan air paling penting bagi pertanian.

"Masalah mendasar dari perluasan tambang Kars berdampak pada  agraria dan ekologis. Berdasarkan hal itu tampaknya negara ingin mengabaikan kepentingan masyarakat pedesaan, terutama petani atas akses sumber-sumber agraria yang terancam," kata Andika di Jakarta beberapa waktu lalu (4/11/2013) .

Apalagi menurut Andika sebagian besar proses pemburukan ekologi itu dipacu lewat galisasi daerah seperti Peraturan Daerah Propinsi Jawa Tengah Nomor 6 Tahun 2010 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009 – 2029, Perda RTRW Kabupaten Kebumen nomor 23 tahun 2012 menyebutkan bentang alam Karst Gombong memiliki luas lebih kurang 4.894 hektare dan seterusnya.

JATAM menghawatirkan, ekologi Jawa yang kian kolaps dari waktu ke waktu apabilah tambang Kars di eksploitasi lebih mendalam lagi.  Sudah sepatutnya, ekologi Jawa diperhitungkan dalam aspek keselamatan penghuninya.

Saat ini beberapa rencana investasi baru seperti rencana pembangunan investasi pabrik semen  Lafarge SA produsen semen terbesar di dunia dan  PT Semen Bosowa di Jawa Timur, PT Ultratech Minning Indonesia di Wono Giri bisa memicu ledakan monopoli lahan dan gangguang ekologi secara cepat dan massif. Oleh karena itu, tambang Kars penting untuk ditinjau kembali sebagai sebuah kebijakan pembangunan.(tnc/alf)

http://energitoday.com/2013/11/06/penambangan-karst-sudah-merisaukan/