18 Nov 2013 | by : ajipwt
“Kami sudah melakukan penelitian di calon lokasi tambang, jika diteruskan 3-4 tahun lagi Kebumen akan krisis air bersih,” kata Thomas Suryono, salah satu peneliti dari Acintyacunyata Speleological Club Yogyakarta, Senin (18/11).
Ia mengatakan, mata air dari ratusan gua itu sudah dimanfaatkan masyarakat setempat sebagi sumber mata air yang melimpah. Di calon lokasi tambang, kata dia, ada batuan formasi Kali Pucang dan Halang yang membentuk sumber mata air raksasa Banyumudal. Sumber mata air inilah yang saat ini dimanfaatkan oleh PDAM untuk penduduk di lima kecamatan.
Ada tiga gua dengan sumber mata air bawah tanah yang akan terdampak jika tambang tetap dilanjutkan. Tiga gua itu yakni, Gua Pucung, Jeblosan dan gua Candi. Ribuan orang menggantungkan air bersih dari ketiga gua ini.
Selain gua yang bakal terpotong akibat adanya tambang, daerah tangkapan air juga akan berkurang. Menurut Thomas, kawasan karst sifatnya seperti spons yang menyerap air saat musim hujan. “Jika batu kapur ini hilang, maka daerah sekitarnya akan terkena banjir dan longsor seperti di Bukit Kendeng Pati,” katanya.
Ia menambahkan, batuan penyusun Karst Gombong merupakan bagian dari Formasi Kalipucang yang berumur Miosen (11-25 juta tahun yang lalu). Berdasarkan batuan penyusunnya, kawasan ini merupakan tempat terbaik sebagai penyerap dan penyimpan air.
Saat ini, kata dia, PDAM sedikitnya sudah memanfaatkan 10 titik sumber mata air yang ada di gua ini. Total air yang dimanfaatkan setiap harinya mencapai 670 liter/detik.
Gua-gua tersebut, kata Thomas, seperti jaring laba-laba putih yang membentuk sistem sungai bawah tanah. Beberapa di antaranya memiliki panjang lorong lebih dari empat kilometer. “Bahkan ada gua yang harus ditelusuri menggunakan perahu karet karena dalam dan lebar sungai dalam tanahnya,” katanya.
Masih menurut Thomas, rencana pendirian pabrik semen oleh PT. Semen Gombong dengan mengambil bahan baku batugamping di kawasan Karst Gombong merupakan ancaman serius terhadap keberlangsungan hidup warga Gombong, baik yang ada di kawasan karst maupun kawasan sekitarnya. Pengupasan permukaan batugamping dikhawatirkan akan menghilangkan fungsi utama kawasan karst sebagai penyerap dan penyimpan air.
Jika karst ditambang, kata dia, sekitar 1,7 juta meter kubik air akan menjadi air permukaan dan langsung mengalir ke daerah sekitarnya. “Dampaknya akan menjadi banjir dan longsor,” katanya.
Geologist PT Semen Gombong, I Wayan Tirka Laksana membantah ada gua di bukit kapur yang akan ditambang. “Tidak ada gua di lahan kami,” katanya.
Ia menyebutkan, bukit kapur yang akan ditambang hanya sekitar 3-5 persen dari total kawasan karst Gombong yang luasnya mencapai 4.894 hektare. Menurut dia, lokasi tambang PT Semen Gombong berada di kawasan timur karst Gombong. Sedangkan gua yang terbentuk puluhan juta tahun lalu itu, disebutnya berada di kawasan barat.
PT Semen Gombong merupakan anak perusahaan Grup Medco milik pengusaha Arifin Panigoro. Total luas lahan yang akan ditambang ditambah pabrik mencapai 500 hektare di Kecamatan Buayan dan Rowokele. Pendirian pabrik saat ini sedang menunggu pembuatan Amdal.
Kepala Badan Lingkungan Hidup Kebumen, Masagus Herunoto, Amdal masih disusun. “Masih dalam tahap awal,” katanya.
Ia mengatakan, penyusunan Amdal akan memperhatikan kawasan tersebut sebagai kawasan lindung dan kawasan penyerap air. Dengan Amdal, kata dia, akan terlihat dampaknya seperti apa untuk lingkungan dan masyarakat.
Menurut dia, bukit kapur yang akan ditambang berada di luar kawasan lindung. Penyusunan Amdal bisa memakan waktu karena melihat apakah dampaknya kompleks atau tidak. “Kami juga akan melihat apakah warga sekitar tambang mengizinkan apa tidak,” katanya.
http://ajikotapurwokerto.or.id/2013/11/18/penambangan-karst-gombong-ancam-ratusan-gua-penyedia-air/







0 komentar:
Posting Komentar